Minggu, 26 Desember 2010
Badai Matahari 2011 diisukan Kiamat
Labelku :Sahabat Milis SebelahTahun baru dan harapan baru
- Fokus di Midas
Sabtu, 18 Desember 2010
Game Online dan Anak-anak
Labelku :Sahabat Warnet
Minggu, 12 Desember 2010
Harapku
lembayung memaparkan keanggunan yang merah
dan...
angin turut menusukan lantunan adzan
ke pori-pori kulit insan
Aku bisikkan desahan penyesalan Kepada-Nya
tentang gambaran yang terekam dalam benak
Ya Rob,... ampuni aku
yang mencoba mengubur gumpalan dosa
membasuh nanah aib
dan...
menambal luka-luka kesalahan
dalam perjalan ini
Sedangkan Rahmat-Mu
seindah lukisan-Mu
tentang kehidupan,gunung, sungai, lembah,
ngarai, hutan...
yang berpayung langit
dengan corak bintang dan bulan
Perjalananku tiba di tengah padang kehidupan
yang harus lalui lautan kendala
jurang kehidupan yang terus saja menganga
Dan satu lagi harapku...
Jika esok Kau izinkan aku kembali
tuk lihat hamparan awan
rasakan kehangatan matahari pagi,
Tolong tuntun aku...
tuk berikan yang terindah
untuk istri dan anaku......
Rabu, 21 Juli 2010
::: Bisa Karena Niat :::
Labelku :Sahabat Iseng
fauzi_jampang : lu maw jadi op ga..?
randy ganesha : gue ga bisa komputer...gaptek...??
fauzi_jampang : ya belajar....tar juga bisa...yang penting lu niat...
sepenggal obrolan bareng temen gue....awalnya temen gue ini sering nongkrong diwarnet...24 jam full..semenjak dah ga kerja lagi di perusahaan lamanya.kegiatannya cuma ngenet, main games,kongkow2 diwarnet. anaknya lumayan supel dan ngocolin....ada semangat dalam dirinya walaupun kadang semangat itu kadang redup dan kadang bersinar lagi. yang membuatnya demikian adalah tekanan dalam hidup, namun temen gue ini bisa menutupinya dengan caranya sendiri. penawaran gue yang pertama untuk ngajak jadi operator gagal, mungkin ga pede.tapi ada kesempatan sekali lagi gue tawarin dan akhirnya di terima. Gue taw, sebenernya temen gue ini bisa dan sanggup asal diarahin ke jalan yang bener, yaps pasti tiap orang pernah ngalamin hal macam ini.kadang pemikiran tiap-tiap orang itu beda-beda dan kita harus maklumi hal itu.
fauzi _jampang : " gue dulu juga ga bisa komputer...buta sama sekali...sampe nyalain komputer aj gak ngerti.."
randy ganesha : " masa sih pang...???"
fauzi_jampang : " beneran...yang penting niat.....komputer itu cabangnya luas.....apalagi internet....lu maw belajar paan terserah lu...tapi yang pasti kalo mo jadi operator warnet, ya paling ga lu kudu taw operasional warnet..
randy ganesha : ( gaya bengong......seakan bingung apa yang gue bilang.....@<*>#$% )
dalam dirinya gue liat ada semangat dan kemauan meskipun itu kudu diasah lagi, sebagai suggesti bwt dirinya gue cerita pengalaman pertama gue jadi operator dari gaptek ampe melek komputer.tujuannya sih biar temen gue ini semangat, dan ada kegiatan yang memang berguna dalam hidupnya.karena gue seneng banget kasih motivasi bwt diri sendiri dan orang lain, gue seneng banget berbagi pengalaman kepada orang lain.
akhirnya berhasil...temen gue nerima tawaran jadi operator di midasnet, awalnya memang susah dan selalu salah, wajarlah baru tahap pembelajaran sama kayak gue dulu...hehehhehehhe.
dari nulis laporan yang selalu missing, ngadepin biling eror, ngeprint dan scanning perlahan tapi pasti temen gue dah bisa menguasai.kalo dulu bingung ngadepin koneksi bermasalah tapi sekarang udah bisa, kalo dulu paling takut kalo ada user mo nge-print tapi sekarang udah lancar.
tetap semangat...!!! bukan buat temen gue yang satu ini aj...tapi temen-temen gue juga yang gabung di midasnet, tetap semangat menjalani profesi kita ini dengan hati yang lurus.Kembangkan terus ilmu, berbagilah dengan yang lain.....
apa yang bisa dipetik dari sini.....
bahwa semuanya bisa kita lakukan dengan niat dan semangat pantang menyerah ga ada yang gak mungkin dan semuanya akan mungkin.Jangan pernah takut untuk menjalani sesuatu yang baru, apalagi sesuatu yang baru itu bermanfaat untuk kita sendiri dan orang banyak.
mudah-mudahan berguna....
post at : http://vhauzie0611.blogspot.com
::: Ketika Harus Memilih :::
Hidup ibarat roda yang berputar. Kadang kita menemui jalan bak aspal yang mulus, kadang pula harus melewati jalan setapak penuh kerikil tajam. Kadang kita berada di atas, tak jarang pula berada di bawah. Kadang beruntung mendapat jalan yang lapang seperti jalan tol, namun sering pula bertemu jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arah (mmm…yang ini gak ada hubungannya sama roda yak? hehe..).
Berada di jalan yang mulus beraspal hendaknya membuat kita bersyukur namun tetap waspada agar tidak celaka. Jalan yang penuh kerikil tajam melatih kita untuk lebih berhati hati agar tidak terluka. Berada di atas hendaknya membuat kita bersyukur dan tetap mengambil pelajaran dari yang di bawah. Dan berada di bawah hendaknya membuat kita senantiasa bersabar dan berjuang keras untuk dapat sampai ke atas. Jalan yang lapang hendaknya membuat kita menghargai kemudahan yang didapatkan dan jangan terlena. Jalan yang sempit, penuh persimpangan dan tanpa penunjuk arahlah yang akan memberikan kita pelajaran tentang kesabaran, keberanian serta kedewasaan.
Gak jarang Allah memberikan kita cobaan berupa jalan yang penuh persimpangan itu dan kita harus menentukan pilihan. Bukan hal yang mudah untuk memilih. Bahkan jika kita merasa hanya ada satu pilihan pun kadang terasa sulit memilihnya. Hmmm…
Kadang kita tidak menyadari bahwa hati kecil kita adalah ujung tombak dari segala keputusan yang kita ambil. Ketika hati itu lemah, maka keraguan akan mudah menyelimuti. Namun jika hati kita kuat, segala sesuatunya pasti dapat kita kembalikan kepada Allah, dan senantiasa berbaik sangka terhadap apapun yang terjadi pada kita. Karena Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Kembali ke masalah pilihan. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang menurut kita sulit, lihatlah dengan hati nurani kita. Sholat istikharoh salah satu medianya. Tak jarang Allah menunjukkan bahwa pilihan itu baik, dengan menyembunyikan keburukannya. Dan tak jarang pula keburukan pilihan itu ditunjukkan kepada kita, dengan jelas ataupun tersirat. Satu hal yang selalu gue jadikan pegangan untuk berprasangka baik kepada Allah terhadap pilihan-pilihan sulit yang gue hadapi adalah bahwa jika sebuah pilihan meninggalkan kita, berarti itu memang bukan yang terbaik untuk kita dan Allah pasti telah menyediakan yang lebih baik daripadanya. Dengan begitu maka tidak akan pernah ada penyesalan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, karena Allah tahu pasti apa yang kita butuhkan dan Insya Allah akan kita dapatkan dari arah yang kadang tidak disangka-sangka.
Teruntuk seorang sahabat…
Tak mampu menahan kuatnya insting itu…
post from : http://vhauzie0611.blogspot.com
Selasa, 13 Juli 2010
::: Susahnya Jadi Pemimpin :::
Labelku :Sahabat sahabat
Pemimpin bukanlah orang yang “senang melihat orang lain sedih, dan sedih melihat orang lain senang”. Pemimpin adalah orang yang pandai menyembunyikan kesedihan diri karena memikirkan untuk menyenangkan banyak orang. Pemimpin adalah orang yang pandai membagi kesenangan diri untuk dapat dirasakan oleh banyak orang.
Terkadang pemimpin harus terampas kemerdekaan diri dan keluarganya. Betapa demi memimpin organisasi, sering pemenuhan kebutuhan diri dan keluarga jadi terlantar. Betapa pasangan akan sering complain karena jadwal acara keluarga jadi nomer sekian. Betapa anak-anak pun juga menuntut hal sama. Bahkan jadwal antar jemput anak, mengantar belanja, tamasya, dan makan bersama dianggap bukan urusan wajib karena banyak urusan organisasi yang menyita waktu dan tenaga.
Di sinilah letak “sedihnya jadi pemimpin”. Sehingga banyak orang memilih langkah aman untuk tidak mau menjadi pemimpin organisasi. Mereka lebih memilih untuk memimpin diri sendiri dan keluarganya. Alasannya, banyak pemimpin mengaku sukses mengelola organisasinya, tetapi gagal memimpin keluarganya. Banyak suami merasa sukses jadi pemimpin organisasi, tetapi ternyata tidak punya wibawa lagi di depan istri dan anak karena seringnya mengingkari janji untuk waktu bersama keluarga. Banyak istri merasa sukses berkarier jadi pemimpin organisasi, tetapi ternyata tidak ada waktu lagi mendidik anaknya. Dalam istilah ironi, lebih mempercayakan pendidikan anak kepada pembantu rumah tangga dan suplai protein dari si Sapi (baca: tanpa ASI).
Ada juga orang yang tidak mau mengajukan diri jadi calon pemimpin manakala kondisi diri dan keluarganya belum baik secara lahir maupun batin. Mereka memakai slogan “lha wong ngurus diri dan keluarga aja gak sukses, kok malah mau maju untuk memimpin banyak orang”. Tapi ada juga yang bertanya : “Tapi khan anda punya bekal kepakaran dan gelar yang memenuhi syarat buat nyalon? Kenapa takut?”. Mereka tetap tak bergeming. Bahkan mereka punya keyakinan bahwa seni memimpin tidak ada kaitan dengan kepakaran dan gelar ilmiah. Seni memimpin mengalir seiring potensi bakat dan minat sejak kecil. Biasanya terlihat sejak kecil, dimana saat berkumpul dengan banyak orang, sering menjadi pemimpin (leader) baik secara formal maupun tidak.
Namun sekarang banyak orang yang mengaku “pantas menjadi pemimpin” tanpa mempertimbangkan hati nurani dan potensi diri. Mereka lebih tergiur pada ‘aroma kekuasaan’ dan konsekuensi perolehan materi yang akan didapatkan. Mereka berdalih “saya khan tidak memimpin sendiri, kekurangan saya akan ditutupi oleh kelebihan para pembantu saya”.
Pemimpin yang baik tidak memakai “jurus pelampiasan”. Melampiaskan percekcokan urusan rumah tangga pada kegiatan organisasi. Atau melampiaskan kepenatan urusan organisasi pada urusan rumah tangga. Pemimpin yang baik perlu “empan papan” (pandai menempatkan diri), karena dialah ‘kepala’ dari seluruh ‘badan’ (organisasi). Sikap pemimpin dapat diartikan sebagai peng-ejawantahan (aktualisasi) sikap organisasi. Jadi, berhati-hatilah dalam ucapan dan tindakan.
Sedihnya jadi pemimpin, berbuat benar saja masih saja ada yang mencela, apalagi sang pemimpin sering membuat kesalahan. Ingatlah slogan pemimpin besar masa lalu, yang mengatakan : “Saya adalah orang terakhir yang sejahtera, setelah rakyatku”. Atau pemimpin yang berujar : “Marahku atas nama rakyatku yang marah, Sedihku karena rakyatku sedang bersedih, dan Senangku karena rakyatku merasa senang”.
